ww

November 30, 2018 | Author: cicci chairunisa m | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

ee...

Description

 Nama : Cicci Chairunisa Mas’um  NIM : PO.71.4.201.14.1.007 PO.71.4.201.14.1.007 LOGBOOK MODUL 7 DIABETES PADA LANSIA Kasus Tn. G. Berusia 70 tahun, mengeluh sering lemas dan tidak bertenaga, aktifitas saat ini sudah banyak dikurangi. Kebiasaan Tn. G yang masih dilakukan saat ini adalah tetap merokok dan makan yang tidak teratur. Tn. G. juga selalu marah  –   marah bila keluarganya tidak membertikan makanan yang banyak dan kopi yang manis. Tn. G sering keluar rumah untuk beli makanan di warung. Tn. G dulu pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darahnya tinggi dan sempat tidak sadarkan diri.

Aktivitas 1

Deskripsikan mekanisme terjadinya perubahan fisiologis pada lanjut usia a. Masalah Sensori Persepsi Perubahan penglihatan pada lansia awalnya dimulai dengan terjadinya awitan  presbiopi, kehilangan kemampuan akomodatif. Kerusakan kemampuan akomodasi terjadi karena otot- otot silaris menjadi lemah dan lebih kendur, dan lensa kristalin mengalami sclerosis, dengan kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk memusatkan pada (penglihatan jarak dekat). Ukuran pupil menurun (miosis pupil) dengan penuaan karena sfinker pupil mengalami sclerosis. Katarak juga dapat terjadi akibat meningkatnya kekeruhan lensa Kristal yang terjadi dari waktu ke waktu. Penglihatan yang kabur dan seperti terdapat suatu selaput di atas mata adalah suatu gejala umum, yang mengakibatkan kesukaran dalam memfokuskan penglihatan dan membaca. Hal diatas merupakan proses menua yang terjadi secara umum pada lansia. Sedangkan lansia dengan DM terjadi kerusakan oksidatif hal ini terjadi karena suatu  proses menghilangnya secara perlahan  –   lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat memperbaiki kerusakan yang diderita sehingga dapat terjadi stress oksidatif. Stress oksidatif adalah suatu kondisi tidak seimbang antara pembetukan radikal bebas dan aktioksidan pada tingkat seluler, stress oksidatif berpotensi meningkatkan komplikasi vascular diabetes dengan empat jalur metabolik: PKC (Protein Kinase-C Pathway), AGEP (Advanced Glycation End Products Products Pathway), Hexosamine pathway (PAHA), aldose reductase (AR). Stres oksidatif juga dapat menyebabkan disfungsi disfungsi sel β dan insulin resisten. Kontrol glukosa yang baik dan antioksidan yang kuat dapat menurunkan stres oksidatif, dan memperbaiki fungsi sel β dan memperbaiki sensitifitas insulin. a. PKC/ Protein Kinase-C Pathway

DAG (Diacyglycerol) (Diacyglycerol) dan PKC adalah molekul yang banyak berperan dalam faal vaskuler seperti: - Permeabilitas meningkat - Vasodilatasi - Aktivasi endotel - Sinyal pertumbuhan Vascular Growth Factor Expression (VGFE) Inhibitor PKC adalah ruboxistaurin mesylate, mempunyai afinitas tinggi terhadap isoform β1 dan β2, mampu memblokir abnormalitas vaskuler di endotel dan sel kontraktil mesangial serta disfungsi glomerulus.  b. AGEP / Advanced Glycation End Products Pathway AGEP dapat mengubah fungsi sel dengan mengikat reseptor AGEP, satu reseptor membran. Ikatan ini dapat merangsang sinyal PKC sehingga menyebabkan menyebabkan disfungsi sel. Inhibitor pembentukan AGEP adalah Aminoguanidine, pada binatang dapat memblok peristiwa diatas, secara klinik klinik penggunaan terbatas karena masalah toksisitas. Kita mengetahui bahwa mikrotrombus yang dirangsang oleh AGEP  berakibat hipoksia lokal, meningkatkan angiogenesis dan akhirnya progresi mikroangiopati. Seperti pada penglihatan c. Hexosamine Pathway Melalui aktivasi GFAT (glucosamine fructose amidotransferase) disebabkan oleh kadar glukosa darah yang tinggi, TGF-β TGF- β yang meningkat dapat menyebabkan akumulasi komponen komponen matriks protein mesangium mesangium dan menghambat proliferasi sel (meningkatnya MMPs / matriks metallo proteins). Akumulasi matriks mesangial adalah tanda glomerulosklerosis diabetes. d. Aldose Reductase or Polyol Pathway Pada kondisi kondisi normal, metabolisme gula tidak dilakukan pada pada jalur poliol. Aldose reductase (AR) hanya akan aktif apabila glukosa intrasel melebihi nilai hiperglikemi. Proses AR menggunakan NADP (nicotinamide adenine dinucleotide phosphate) untuk mereduksi glukosa menjadi sorbitol, yang kemudian dioksidasi menjadi fruktosa lewat sorbitol dehydrogenase (SDG) . AR dapat mengaktifkan produksi TNFα. Kadar sorbitol mengakibatkan kerusakan mikrovaskular. AR- inhibitor ternyata mampu mencegah kelainan mikroangiopati.

Soal : Seorang perempuan usia 72 tahun datang ke Poli Puskesmas dengan keluhan sudah 2 malam ini sulit tidur, bangun lebih awal dan tidak bisa tidur kembali. GDS 140 mg/dl Bangun tidur  badannya terasa teras a pegal-pegal dan tidak nyaman. Kondisi ini dialami sejak klien akan operasi katarak. Apa masalah utama yang dihadapi oleh klien tersebut? A. Cemas B. Keletihan C. Gangguan pola tidur

D. Ketidakefektifan koping E. Gangguan persepsi sensori : penglihatan

 b. Kekuatan otot dalam mobilisasi dan ambulasi Seiring dengan proses penuaan maka terjadi berbagai kemunduran kemampuan dalam  beraktifitas karena adanya kemunduran kemampuan fisik, penglihatan dan pendengaran sehingga terkadang seorang lanjut usia membutuhkan alat bantu untuk mempermudah dalam melakukan berbagai aktivitas sehari-hari tersebut (Stanley, 2006). Soal

:

Seorang laki –  laki berusia 65 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan tangan tremor dan jantung  berdebar .Pemeriksaan tanda vital .T. 140/80.mmHg Nafas : 20 kali/menit ,Nadi 80 kali/menit. Apa tindakan keperawatan utama pada pasien diatas a. Melatih relaksasi  b. Melatih kekuatan oto c. Latihan mobilisasi d. Senam e. Berlari

c. Penurunan fungsi kardiovaskuler Diabetes menyebabkan factor risiko terhadap PJK yaitu bila kadar glucose darah naik terutama bila berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga gula darah (glukoosa) tersebut dapat menjadi pekat, dan ini mendorong terjadinya pengendapan atherosclerosis pada arteri koroner. Pasien dengan diabetes cenderung mengalami gangguan jantung pada usia yang masih muda. Diabetes yang tidak terkontrol dengan kadar glukosa yang tinggi dalam darah cenderung menaikan kadar kolesterol. Soal

:

Lansia usia 70 tahun dengan diagnose diabetes mellitus datang ke sebuah poliklinik dengan keluhan badan lemas, pusing, pandangan mata kabur, ekstremitas tremor, jantung berdebar, dada terasa sesak dan serasa mau jatuh saat berjalan. Pasien tampak pucat, mengalami  penurunan kesadaran (Apatis), tachypnea, setelah diperiksa didapatkan data : TD 90/60 mmHg, Nadi 58 x/menit, Suhu 36,5 0C, RR 24x/menit, GDS 140 mg/dl, HB 14 gr/dl, ureum 40 mg/dl, asam urat 5 mg/dl, natrium 140 mmol/L, kalium 4.0 mmol/L, Sa O2 92%, PO2 80 mmHg, PCO2 34 mmHg dan HCO3 24 mmol/L. Apakah prioritas masalah keperawatan pada lansia diatas ? a. Perubahan perfusi serebral  b. Penurunan curah jantung c. Pola nafas tak efektif d. Hiperglikemi e. Resiko cedera

d. Penurunan fungsi Neurogical Seiring dengan pertambahan usia maka akan terjadi penurunan fungsi organ tubuh termasuk pancreas dampaknya adalah defesiensi insulin dan resistensi insulin sehingga glukosa tidak mampu di transport ke dalam sel dan bertumpuk dalam darah sehingga kadar gula di dalam darah meningkat membuat gluconeogenesis dan lipolysis meningkat akibatnya akan terjadi pembentukan energi asam lemak bebas dan kolesterol sehingga terjadi peningkatan LDL dan penurunan fungsi HDL hal ini mengakibatkan  pembentukan plak  –   plak pada pembuluh darah. Artherosclerosis membuat penurunan suplai darah ke pembuluh darah besar pada ekstremitas bawah atau penurunan darah ke vaskuler perifer (pembuluh darag di lengan, kaki dan organ bawah perut mengakibatkan kesemutan, akral dingin dan baal sehingga terjadi penurunan fungsi neurogical Kerusakan serabut saraf pada umumnya dimulai dari distal/ujung menuju ke  proksimal/pangkal, sedangkan proses perbaikan mulai dari proksimal ke distal. Oleh karena itu pada umumnya pasien mengeluhkan rasa baal atau nyeri pada ujung-ujung jari kaki (Vinik, 2002). Dibandingkan dengan serabut saraf dengan diameter besar, terlihat  bahwa pada awalnya yang lesi adalah serabut saraf kecil (De Cherney, 1999). Penderita nyeri neuropati dengan keluhan nyeri yang berat (terutama pada kaki) umumnya menunjukkan kelainan neurologik yang ringan berupa gangguan sensorik  bagian distal kaki sedangkan refleks masih dalam batas normal. Pasien yang mengalami kerusakan saraf tanpa nyeri sering menunjukkan gejala neurologik seperti refleks yang negatif (Scadding, 1999). Hal ini berarti bahwa kerusakan saraf pasien dengan nyeri lebih ringan daripada pasien tanpa nyeri. Kematian neuron menyebabkan timbulnya gejala negatif dari sistem saraf seperti gangguan sensorik dengan manifestasi berupa rasa baal, rasa tebal, anestesi, gangguan motorik berupa kelumpuhan atau gangguan otonom berupa impotensi. Akan tetapi bila lesi ringan, maka terjadi degenerasi akson (survival response). Respon ini menyebabkan terjadinya perubahan fenotip untuk mempersiapkan proses regenerasi. Proses regenerasi menimbulkan distorsi dari signal, seperti munculnya reseptor, saluran ion baru, sprouting ujung saraf dengan neuromanya, yang kesemuanya dapat menimbulkan nyeri. Proses tersebut terbukti pada pemeriksaan biopsi saraf pada penderita neuropati dengan nyeri berat, dimana tampak adanya degenerasi serabut saraf afferen yang dengan atau tanpa mielin dengan tunas-tunas barunya (sprouting) (Scadding, 1999). Tunas baru yang tumbuh ini dapat memunculkan nyeri. Soal

:

Manakah dibawah ini, dikenali perawat sebagai manifestasi saraf otonom pada saat mrngalami kejang a. Kebas dan kesemutan

 b. c. d. e.

Perubahan rasa dan bicara Meingkatnya sensasi epigastrik Tidak dapat mengingat kejadian sebelum kejang Pengalaman aura atau sensasi

e. Penurunan Fungsi Bladder Dan Seksual Diabetes mellitus penyebab periferal neuropaty yang menyebabkan rentensio urin. Penyakit ini merusak saraf kandung kemih, distensi tidak nyeri dari kandung kemih. Pasien dengan diabetes kronis kehilangan sensasi dari kandung kemih, sebelum kandung kemih melakukan dekompensata. Serupa dengan cedera pada sakrum, pasien akan sulit untuk berkemih, mereka mungkin mempunyai hypocontractile bladder. - Pada pria Jangka panjang diabetes pada pria bisa menyebabkan kerusakan pada sistem saraf, yang terlibat dalam proses ereksi kompleks. Hal ini berarti pria dengan diabetes mungkin menderita disfungsi ereksi (DE) dan tidak mampu untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi. Sebanyak sepertiga dari pria dengan diabetes pada akhirnya akan mengalami impotensi. Bahkan, beberapa pria baru mengetahui bahwa mereka mengidap diabetes ketika mereka mencari pengobatan terkait masalah disfungsi ereksi mereka. Namun Anda tidak perlu cemas, hal ini dapat di atasi dengan mengatur pola diet yang tepat dan ditunjang dengan konsumsi obat-obatan atau insulin. - Pada perempuan Sejumlah wanita dengan diabetes dapat menderita vaginitis berulang (radang vagina), yang biasanya disebabkan jamur infeksi. Kondisi ini akan membuat hubungan seks terasa tidak nyaman dan menyakitkan. Bahkan pada beberapa  perempuan, mungkin akan mengalami gatal atau sensasi seperti terbakar, dan keluarnya cairan putih. Perempuan dengan diabetes juga bisa mendapatkan sistitis berulang - salah satu penyakit Infeksi Saluran Kemih (ISK). Selain itu, beberapa bukti menunjukkan  bahwa perempuan dengan diabetes cenderung memiliki masalah dengan gairah, dan klitoris (pusat saraf seks pada perempuan) mungkin tidak merespon rangsangan dengan cara yang biasa. Soal

:

Seorang laki-laki usia 70 tahun datang ke seorang tanaga kesehatan dan mengatakan bahwa dirinya belakangan ini sering mengalami kasus mengompol. Pasien mengatakan bahwa dirinya tidak sadar sudah mengompol secara tiba-tiba, mengalir terus menerus dan volumenya sedikit dan tidak terjadi saat batuk maupun bersin. Saat diperiksa didapatkan data  bahwa pembesaran prostat sudah grade 2 dan pasien dikatakan mengalami inkontinensia overflow. Apakah tindakan keperawatan yang harus segera dilakukan pada lansia tersebut ? a. Melakukan tindakan pembedahan  b. Mengajarkan pasien latihan bladder training

c. Melakukan terapi pengosongan kemih cepat d. Mengajarkan latihan otot dasar pelvis e. Melakukan terapi kompres di daerah buli-buli AKTIFITAS 2

Jelaskan mekanisme resistensi insulin pada lanjut usia a. Perubaan komposisi tubuh (massa otot, peningkatan jaringan lemak) Resistensi insulin sering ditemukan pada orang dengan adipositas visera (yaitu, kandungan jaringan lemak yang tinggi di bawah dinding otot perut - yang berbeda dengan adipositas subkutan atau lemak antara kulit dan dinding otot , khususnya di tempat lain pada tubuh, seperti pinggul atau paha), hipertensi, hiperglikemia dan dislipidemia yang disertai trigliserida tinggi, partikel small dense low-density lipoprotein (sdLDL) partikel, dan  penurunan kadar kolesterol HDL. Sehubungan dengan adipositas viseral , banyak bukti menunjukkan dua hubungan erat dengan resistensi insulin. Pertama, tidak seperti jaringan adiposa subkutan, sel-sel adiposa viseral menghasilkan sejumlah besar sitokin pro-inflamasi seperti tumor necrosis factor-alpha (TNF-a), dan interleukin-1 dan -6, dll. Pada banyak model eksperimental, sitokin pro-inflamasi ini sangat mengganggu aksi normal insulin dalam lemak dan sel-sel otot, dan mungkin menjadi faktor utama dalam menyebabkan resistensi insulin seluruh tubuh yang diamati pada pasien dengan adipositas viseral. Banyak perhatian ke produksi sitokin proinflamasi berfokus pada jalur IKK-beta/NF-kappa-B, jaringan protein yang meningkatkan transkripsi gen sitokin. Kedua, adipositas viseral terkait dengan akumulasi lemak dalam hati, suatu kondisi yang dikenal sebagai penyakit hati berlemak nonalkohol (NAFLD). Hasil yang berlebihan  NAFLD adalah pelepasan asam lemak bebas ke dalam aliran darah (karena meningkatnya lipolisis), dan peningkatan produksi glukosa hepatik, yang keduanya mempunyai efek memperburuk resistensi perifer insulin dan meningkatkan kecenderungan diabetes mellitus tipe 2.

Soal

:

Penurunan komposisi tubuh pada massa otot dan p eningkatan jaringan lemak mengakibatkan a.  b. c. d. e.

Penurunan massa otot terutama pada otot lurik atau rangka Pertambahan usia Penurunan fungsi organ tunuh Sering lapar Sering haus dan buang air kecil

 b. Menurunnya aktivitas fisik Penyerapan glukosa oleh jaringan tubuh pada saat istirahat membutuhkan insulin, sedangkan pada otot yang aktif tidak disertai kenaikan kadar insulin walaupun kebutuan glukosa meningkat. Hal ini dikarenakan pada waktu seseorang beraktivitas fisik, terjadi  peningkatan kepekaan reseptor insulin di otot yang aktif. Masalah utama yang terjadi  pada diabetes melitus tipe 2 adalah terjadinya resistensi insulin yang menyebabkan glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel. Saatbseseorang melakukan aktivitas fisik, akan terjadi kontraksi otot yang pada akhirnya akan mempermudah glukosa masuk ke dalam

sel. Hal tersebut berarti saat seseorang beraktivitas fisik, akan menurunkan resistensi insulin dan pada akhirnya akan menurunkan kadar gula darah (Ilyas, 2011).

Soal : Resistensi insulin akibat menururnnya aktivitas fisik di pengaruhi oleh a.  b. c. d. e.

Penurunan kecepatan translokasi GLUT-4 Sering marah Makan yang berlemak Terlalu banyak olahraga Makan berlebihan

c.

Perubahan pola makan Leptin akan menurunkan selera makan, dan penurunannya akan berkontribusi pada  peningkatan adiposit dan perubahan komposisi ini terlihat pada orang tua. Adiponektin, merupakan protein dengan kemampuan anti-inflamasi, yang mana kemudian diketahui memiliki efek mengurangi resistensi insulin. Kadarnya yang tinggi pada orang tua terkait dengan penurunan risiko diabetes (Kanaya, Harris, et al., 2004). Selanjutnya, pada usia tua terjadi sekresi insulin yang tidak adekuat. Sebagai respon dari peningkatan kadar glukosa, insulin normalnya disekresikan dalam dua fase, fase  pertama sebagai fase inisial (0-10 menit), yang diikuti oleh fase kedua (10-120 menit) yang secara berkelanjutan dibutuhkan untuk menjaga darah dalam kondisi euglikemia. Sebuah studi menunjukkan pada orang tua terjadi reduksi sebesar 50% pada sekresi sel β  pancreas. Penuaan juga dicirikan oleh berkurangnya frekuensi dan amplitudo dari  pengeluaran periodik insulin normal. Kehilangan irama normal ini penting karena irama ini menghambat pengeluaran glukosa dari hepar. Meskipun mekanisme ini belum sepenuhnya dimengerti, salah satu hipotesa yang mungkin adalah gangguan pada fisiologi inkretin derivat gut. Inkretin merupakan dua hormon gastrointestinal yaitu Gastric Inhibitory Polypeptide  (GIP) dan Glucagon-Like  Peptide-1 (GLP-1), yang mana mempertinggi sekresi insulin saat adanya pemasukan glukosa dari oral. Pada orang tua normal tanpa diabetes, pengeluaran dari GLP-1 lebih  besar setelah pemasukan glukosa tapi tidak meningkatkan insulin sesuai yang diharapkan, menandakan adanya resisten sel β pancreas. Begitu diabetes berkembang, sekresi GLP-1 berkurang, dan sel-sel β menjadi resisten terhadap efek GIP (Toft-Nielsen, Damholt., 2001).

Soal :  Ny.M, usia 70 tahun,dirawat dengan DM, mengeluh tidak ada nafsu makan. , ia dianjurkan melakukan diet dengan ketat.tapi pasien suka makan permen bonbon, Perawat mengampirinya dan mengatakan : Ny M, saya sebenarnya kecewa setiap kali harus menyatakan bahwa sangat penting untuk taat  pada diet yang dianjurkan ., Hal ini sudah sering kita bicarakan bersama. Tetapi tidak peduli dan

mengecewakan. a. Membatasi minum kopi dan teh  b. Berikan makanan yang mengandung serat

c. d. e. d.

Berikan makanan dengan porsi kecil tapi sering Berikan minum dan kurangi makanan yang terlalu manis Batasi pemberian makanan yang tinggi kalori (gula,makanan berlemak ). Perubahan neurohormonal Faktor perubahan neurohormonal khusunya penurunan kadar DHES dan IGF-1  plasma, serta meningkatnya stres oksidatif. Pada usia lanjut diduga terjadi age related metabolic adaptation, oleh karena itu munculnya diabetes pada usia lanjut kemungkinan karena aged related insulin resistance atau aged related insulin inefficiency sebagai hasil dari preserved insulin action despite age (Rochmah, 2006).

Soal : Perubahan neurohormonal pada lansia sehingga menyebabkan resistensi insulin di akibatkan karena penurunan dehydroepandrosteron (DHEAS) plasma sehingga mengakibatkan a.  b. c. d. e.

Penurunan respon stimulus growth hormone Penurunan fungsi organ tubuh Penurunan ambilan glukosa Pertambahan usia Penyakit degeneratif

AKTIVITAS 3

Identifikasi kata kunci pada kasus diabetes pada lanjut usia secara mandiri Identifikasi kata kunci pada kasus diabetes pada lanjut usia secara mandiri Jawab : Usia, pola hidup dan riwayat Diabetes Melitus AKTIVITAS 4

Identifikasi seacara mandiri data tambahan yang saudara perlukan untuk merumuskan masalah keperawatan Jawab : a.  b. c. d.

Pasien berusia 70 tahun Pasien mengelus lemas dan tidak bertenaga Pasien tetap merokok dan makan tidak teratur Pasien selalu marah –  marah bila keluarganya tidak memberikan makanan yang  banyak dan kopi manis e. Pasien sering keluar rumah untuk membeli makanan diwarung f. Pasien pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darahnya tinggi dan sempat tidak sadarkan diri

AKTIVITAS 5

Diskusikan data tambahan yang saudara yang perlukan untuk merumuskan masalah keperawatan pada kasus diabetes melitus dengan komplikasi hiperglikemia yang sudah di idenfitifkasi individu/mandiri untuk mencapai kesepakatan kelompok Jawab : a.  b. c. d.

Pasien berusia 70 tahun Pasien mengelus lemas dan tidak bertenaga Pasien tetap merokok dan makan tidak teratur Pasien selalu marah –  marah bila keluarganya tidak memberikan makanan yang  banyak dan kopi manis e. Pasien sering keluar rumah untuk membeli makanan diwarung f. Pasien pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darahnya tinggi dan sempat tidak sadarkan diri

AKTIVITAS 6

Identifikasi masalah keperawatan pada kasus diabetes pada lanjut usia secara mandiri  berdasarkan data subyektif dan data obyektif pada kasus Jawab : a. Intoleransi aktivitas  b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh c. Resiko cedera AKTIVITAS 7

Diskusikan masalah keperawatan pada kasus diabetes pada lanjut usia yang sudah diidentifikasi oleh individu/mandiri untuk mencapai kesepakatan kelompok Jawab : a. Intoleransi aktivitas  b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh c. Resiko cedera AKTIVITAS 8

Identifikasi faktor –  faktor yang berhubungan dan faktor resiko pada kasus diabetes pada lanjut usia Jawab : a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan  b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas

c. Resiko cedera dengan faktor resiko pasien mengeluh sering lemas dan ti dak bertenaga AKTIVITAS 9

Diskusikan faktor –  faktor yang berhubungan dengan dan faktor resiko pada kasus diabetes  pada lanjut usia yang sudah diidentifikasi secara individu/mandiri untuk mencapai kesepakatan kelompok Jawab : a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan  b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas c. Resiko cedera dengan faktor resiko pasien mengeluh sering lemas dan tidak bertenaga AKTIVITAS 10

Susunlah diagnosis keperawatan pada kasus diabetes melitus dengan komplikasi akut (hiperglikemi) secara mandiri Jawab : a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, ditandai dengan : Data Subyektif :  “Sering lemas dan tidak bertenaga”  “sering keluar rumah untuk membeli makanan di warung”  “pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darah tinggi dan sempat tidak sadarkan diri” Data Obyektif :  

Pasien nampak lemas Berusia 70 tahun

 b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas ditandai dengan : Data Subyektif :  “sering lemas dan tidak bertenaga”  “selalu marah apabila tidak diberi makanan yang banyak dan kopi manis”  “sering keluar rumah untuk membeli makanan di warung”  “pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darah tinggi dan sempat tidak sadarkan diri”  “tetap merokok dan makan tidak teratur” Data Obyektif : 

Pasien nampak lemas



Berusia 70 tahun

c. Resiko cedera dengan faktor resiko  sering lemas dan tidak bertenaga  sering keluar rumah untuk membeli makanan di warung   pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darah tinggi dan sempat tidak sadarkan diri AKTIVITAS 11

Diskusikan diagnosis keperawatan pada kasus diabetes melitus dengan komplikasi akut (hiperglikemi) yang sudah diidentifikasi oleh individu/mandiri untuk mencapai kesepakatan kelompok Jawab : a. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, ditandai dengan : Data Subyektif :  “Sering lemas dan tidak bertenaga”  “sering keluar rumah untuk membeli makanan di warung”  “pernah dirawat di RS karena kadar gluk osa darah tinggi dan sempat tidak sadarkan diri” Data Obyektif :  

Pasien nampak lemas Berusia 70 tahun

 b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas ditandai dengan : Data Subyektif :  “sering lemas dan tidak bertenaga”  “selalu marah apabila tidak diberi makanan yang banyak dan kopi manis”  “sering keluar rumah untuk membeli makanan di warung”  “pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darah tinggi dan sempat tidak sadarkan diri”  “tetap merokok dan makan tidak teratur” Data Obyektif :  

Pasien nampak lemas Berusia 70 tahun

c. Resiko cedera dengan faktor resiko  sering lemas dan tidak bertenaga  sering keluar rumah untuk membeli makanan di warung



 pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darah tinggi dan sempat tidak sadarkan diri

AKTIVITAS 12

Identifikasi materi belajar pada kasus diabetes pada lanjut usia secara mandiri Jawab : a. Diabetes melitus pada lansia  b. Masalah keperawatan yang lazim muncul pada DM lansia c. Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada DM lansia Penanganan pada diabetes melitus lansia PERTEMUAN II AKTIVITAS 1 & 2

Susunlah rencana keperawatan pada kasus diabetes pada lanjut usia secara mandiri Jawab : Diagnosa Keperawatan Intoleransi aktivitas  berhubungan dengan keletihan

Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3X24 jam diharapkan tidak terjadi intoleransi aktivitas dengan kriteria hasil : 





Intervensi

1. Kaji status fisiologis  padien yang menyebabkan kelelahan sesuai dengan kondisi usia Tidak dan terjadi  perkembanga kelelahan n TTV 2. Anjurkan dalam  pasien rentang mengungkapk  normal an perasaan Dapat secara verbal  beraktivita mengenai s seperti keterbatasan  biasanya yang dialami 3. Monitor sistem kardiorespiras i pasien

Rasional 1. Untuk mengetahu i kelelahan sesuai dengan kondisi usia dan  perkemban gan 2. Untuk mengetahu i keterbatasa n aktivitas yang dialami 3. TTV meningkat saat  beraktivita s dan akan kembali

selama kegiatan 4. Catat waktu dan lama istirahat/tidur  pasien 5. Ajarkan  pasien mengenai  pengelolaan kegiatan dan teknik manajemen waktu untuk mencegah kelelahan

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas

Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi dengan kriteria hasil : a. Intake makanan sesuai dengan kebutuhan tubuh, indeks massa tubuh (BMI)  b. Tidak ada tandatanda malnutrisi c. Kadar glukosa tubuh dalam rentang toleransi

normal setelah 5-7 menit setelah  beraktifitas 4. Meningkat kan kebutuhan energy 5. Pengelolaa n kegiatan dan teknik manajemen waktu secara tepat dapat menontrol kebutuhan energy dan mencegah kelelahan.

a. Kaji status a. menentukan nutrisi kebutuhan  pasien nutrisi pasien  b.  berat badan  b. Timbang indikator  berat status nutrisi  badan  pasien  pasien c.  banyak c. Identifika faktor yang si faktormempengaru faktor hi status yang nutrisi mempeng sehingga aruhi  perlu status diketahui nutrisi  penyebab  pasien kurang d. Monitorin nutrisi dan g gula merencanaka darah n pemenuhan  pasien nutrisi

secara d.  perubahan  periodik kadar gula sesuai darah dapat indikasi terjadi setiap e. Kaji saat serta  pengetahu dapat an pasien menentukan dan  perencanaan keluarga kebutuhan tentang kalori diet e.  pasien DM diabetik rentang f. Libatkan terjadi  pasien dan komplikasi keluarga sehingga dalam  pasien dan merencan keluarga akan harus kebutuhan memahami nutrisi komplikasi g. Monitorin akut dan g tanda –  kronik tanda f. keluarga dan adanya  pasien hipoglike merupakan mia subjek dan objek yang dapat menentukan sesuai dengan sumber daya yang dimiliki dan memberikan keyakinan rencana  program nutrisi dapat dilaksanakan g.  pemberian obat anti diabetik atau

insulin dapat menimbulka n hipoglikemia Resiko cedera dengan faktor resiko  sering lemas dan tidak  bertenaga  sering keluar rumah untuk membeli makanan di warung   pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darah tinggi dan sempat tidak sadarkan diri

Tidak terjadi cedera, dengan kriteria hasil  pasien tidak mengalami cedera seperti jatuh

a.

b.

c.

d.

e.

Identifika si pasien yang  beresiko (Misal :  penyakit akut,  pembedah an, trauma : kondisipe nyakkit kronis dengan kelemaha n) Mencatat usia dan  jenis kelamin Kaji kekuatan otot. Koordinas i motorik kasar dan halus Tinjau tingkat aktivitas  pasien  pada gaya hidupnya Diskusika n  pentingny a  pemantau

an diri terhadap faktor yang dapat menyebab kan terjadinya cedera (Mis :Keletihan , marah, iritabilitas )

AKTIVITAS 3 & 4

Susunlah catatan perkembangan pada kasus diabetes pada lanjut usia secara mandiri Implementasi : Diagnosa 1: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan Hari/Tanggal Jumat, 12 Januari 2018

No. Jam 1. 08.00

Implementasi Kaji status fisiologis pasien yang menyebabkan kelelahan sesuai dengan kondisi usia dan  perkembangan

2. Anjurkan pasien mengungkapkan  perasaan secara verbal mengenai keterbatasan yang dialami Monitor sistem kardiorespirasi  pasien selama kegiatan

Catat waktu dan lama

Hasil Pasien berusia 70 tahun dan telah terjadi  penurunan fungsi organ tubuh serta mudah lelah Pasien mengatakan mudah lelah dan merasa tidak bertenaga TD : 160/80 mmHG P  N : 98 x/i S : 360 C P : 24 x/i Pasien tidur pukul 21.00 sampai 06.00

istirahat/tidur pasien

Ajarkan pasien mengenai  pengelolaan kegiatan dan teknik manajemen waktu untuk mencegah kelelahan

Pasien dapat mengelola kegiatan yang dilakukan dan disesuaian dengan lama pelaksanaan kegiatan tersebut

Diagnosa 2 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas Hari/Tanggal Jumat, 12 Januari 2018

No. Jam Implementasi 1. 08.00 Kaji status nutrisi pasien

Hasil Pasien makan tidak teratur dan selalu makan makanan yang banyak dan minum kopi manis

2.

Timbang berat badan pasien

BB : 45 kg

Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi status nutrisi  pasien

Pasien menderita diabetes melitus sehingga metabolisme sel menurun

Monitoring gula darah pasien secara periodik sesuai indikasi

GDS : 200 mg/dl

Kaji pengetahuan pasien dan keluarga tentang diet diabetik

Pasien tidak mengerti tentang diet diabetes

Libatkan pasien dan keluarga dalam merencanakan kebutuhan nutrisi

Pasien menjalankan diet sesuai dengan kebutuhan nutrisi tubuh dengan  bantuan keluarga Pasien mengeluh sering lemas dan tidak bertenaga

Monitoring tanda –  tanda adanya hipoglikemia

DIAGNOSA 3 : Resiko cedera dengan faktor resiko  sering lemas dan tidak bertenaga  sering keluar rumah untuk membeli makanan di warung   pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darah tinggi dan sempat tidak sadarkan Hari/Tanggal Jumat, 12 Januari 2018

No. Jam Implementasi 1. 08.00 Identifikasi pasien yang beresiko (Misal : penyakit akut,  pembedahan, trauma : kondisipenyakkit kronis dengan kelemahan) 2.

Hasil Pasien mengalami diabetes melitus

Mencatat usia dan jenis kelamin

Pasien berjenis kelamin laki-laki berusia 70 tahun Kaji kekuatan otot. Koordinasi kekuatan otot 4 4 motorik kasar dan halus 4 4 Tinjau tingkat aktivitas pasien Pasien nampak lemas dan  pada gaya hidupnya mampu merubah posisi dari baring ke duduk secara mandiri Diskusikan pentingnya Keluarga mengetahui dan  pemantauan diri terhadap faktor turut serta dalam yang dapat menyebabkan  pemantauan terhadap terjadinya cedera (Mis :Keletihan ,  pasien dan selalu marah, iritabilitas) membantu serta mengawasi aktivitas yang dilakukan pasien

CATATAN PERKEMBANGAN DIAGNOSA I : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan DIAGNOSA KEPERAWATAN HARI/TANGGAL/JA M

EVALUASI

Intoleransi aktivitas  berhubungan dengan keletihan

S : “Merasa lemas dan tidak bertenaga” O

: a. Pasien Nampak lemah  b. Kadar glukosa darah

sewaktu 200 mg/dl c. Dapat merubah posisi dari baring ke duduk A : Beresiko intoleransi aktivitas P : Lanjutkan intervensi : 1. Kaji status fisioalogis  pasien yang menyebabkan kelelahan sesuai dengan kondisi usia dan perkembangan 2. Anjurkan pasien mengungkapkan  peresaan secara verbal mengenai keterbatasan yang dialami 3. Monitor sistem kardiorespirasi pasien selama kegiatan 4. Catat waktu dan lama istirahat/tidur pasien 5. Ajarkan Pasien mengenai pengelolaan kegiatan danteknik menajeman waktu untuk mencegah kelelahan Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan gangguan keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas

S : “Makan sudah teratur” “Porsi makanan mulai dikurangi” O: a. Pasien nampak lemas  b. Kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dl A: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  belum teratasi P: Lanjutkan intervensi : 1. Kaji status nutrisi pasien 2. Timbang berat badan  pasien

3. Identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi status nutrisi pasien 4. Monitoring gula darah  pasien secara periodik sesuai indikasi 5. Kaji pengetahuan pasien dan keluarga tentang diet diabetik 6. Libatkan pasien dan keluarga dalam merencanakan kebutuhan nutrisi 7. Monitoring tanda –  tanda adanya hipoglikemia Resiko cedera dengan faktor resiko  sering lemas dan tidak bertenaga  sering keluar rumah untuk membeli makanan di warung   pernah dirawat di RS karena kadar glukosa darah tinggi dan sempat tidak sadarkan

1.

2. 3.

4.

S : “merasa sering lemas dan tidak  bertenaga” O : a. Pasien nampak lemas  b. Pasien dapat merubah posisi dari baring ke duduk A : beresiko cedera P : Lanjutkan intervensi Identifikasi pasien yang  beresiko (Misal :  penyakit akut,  pembedahan, trauma : kondisipenyakkit kronis dengan kelemahan ) Mencatat usia dan jenis kelamin Kaji kekuatan otot. Koordinasi motorik kasar dan halus Tinjau tingkat aktivitas  pasien pada gaya

hidupnya 5. Diskusikan pentingnya  pemantauan diri terhadap faktor yang dapat menyebabkan terjadinya cedera (Mis :Keletihan , marah, iritabilitas)

View more...

Comments

Copyright © 2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF